Home » » Idul Adha : Air Mata Di Hari Adha, Saat Petani Karet Berkurban

Idul Adha : Air Mata Di Hari Adha, Saat Petani Karet Berkurban

Posted by Blog Amri Evianti on Saturday, 27 October 2012



Labbaikallaahumma labbaik, Labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wanni’mata laka wal mulk laa sayarika laka.
Kalimat Talbiyah ibarat angin yang memenuhi jagat Makkah Al Mukarromah, sedangkan kalimat takbir telah berkumandang di seluruh seantero jagat raya ini, berderu hingga hari tasyrik terhenti. Meski kini mega nyaris tak tampak,  rintik hujan yang mulai merebahkan di atas tanah yang telah memberikan ribuan nikmat untuk orang-orang yang ada di kampungku, di sanalah terhampar lautan hutan karet yang menjadi mata pencaharian warga Desa Perdamaian, sebuah Desa yang terletak di ujung propinsi Jambi ini, tentunya jika kalian tak kenal nama desa yang kini ku tempati, desa itu masih berada di kawasan negara Indonesia.  
Bercerita tentang hamparan hutan karet di sini, menjadikan mereka percaya bahwa salah satu mensyukuri atas jutaan nikmat yang diberikan dengan cara berkurban, dan alhamdulillah  tadi pagi tepatnya di depan masjid Baiturrahman, masjid yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal saya, mengadakan penyembelihan hewan kurban. Hewan yang di kurbankan setelah pelaksanaan sholat idul adha itu tampak ramai dihadiri oleh warga, tampak dua ekor sapi yang sudah terikat di sebuah tiang, sapi yang dikurbankan oleh para warga yang mampu ini, katanya si sapi ‘bali’, karena aku sendiri kurang begitu paham mana sapi ‘Bali’ mana sapi nggak ‘Bali” kwkwkwkwk. Tampak bapak-bapak  seluruhnya membawa senjata tajam, minimal  ‘parang’ tidak ada yang membawa pisau (emang mau motong ayam). 
Sapi dibeli dari warga sini juga, sebut saja namanya pak Banjir, salah satu juragan sapi di sini, tampak jelas di wajahnya begitu berat ketika menarik pengikat sapi pertama untuk di sembelih, bagaimana tidak kasihan (meski dapet duit juga si) bertahun-tahun sapi dirawatnya, sampai-sampai seperti anak sendiri, yang lebih membuat terharu adalah sapi yang berukuran lebih kecil ini dibanding sapi yang kedua akan disembelih, begitu patuh ketika pak banjir membawanya kesebuah lubang, sebuah lubang yang akan membawanya menjadi hewan terhormat dan mulia dihadapan Allah dan tentunya dihadapan manusia.
 Singkat cerita, sapi kini telah terikat dari dua kaki depan dan dua kaki yang belakang, hingga tandukpun turut diikat, dan semua bapak-bapak sudah mulai beraksi agar sapi tidak berlari saat disembelih, suara takbir mulai kudengar perlahan, hingga akhirnya suara takbir itu semakin mengeras keluar dari mulut orang-orang yang ada disebelahku dan keluar dari mulutku, seiring dengan  ‘golok’ yang sudah mulai menuju leher sang sapi, erangan kini mulai terdengar dari sapi tersebut. Pak Banjir sendiri agak menjauh karena tidak ingin menyaksikan penyembelihan secara lansung. Wajah sapi mulai memelas, matanya tampak begitu menyayat hati antara bahagia dan takut.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar...
Seiring takbir bergema, ‘seeeeeeerrrrrrr’ darah segar mulai mengucur, sapi meraung sejadi-jadinya, bersamaan dengan itu ibu-ibu yang menyaksikan semuanya menangis hingga tak henti-hentinya takbir keluar dari mulut mereka, aku mengusap air mata yang sudah deras membasahi pipiku, melihat sapi disembelih, entah apa yang membuat hal ini begitu mengharukan yang pasti, dari wajah sapi tersebut nampak bahwa dia rela berkurban, raungannya adalah takbir yang dia ucapkan pada Tuhan yang telah menjadikannya salah satu hewan yang bisa sebagai hewan kurban.
Allahu Akbar 3x...
Takbir kini semakin ku lafadzkan dengan keras, ketika kulihat sapi yang  menjadi urutan kedua untuk disembelih, dari kedua matanya mengalir cairan bening, Subhanaallah sapi itu menangis. Isakku semakin menjadi-jadi, ketika mulai sapi yang kedua mulai disembelih, saat ‘golok’ terhunus ke leher sapi tersebut, seiring darah mengucur dari lehernya, air matanya kembali meleleh. Wahai  sapi damailah engkau, air matamu adalah sebuah bukti ketulusan dan kebahagian mahkluk yang akan segera bertemu pada sang Kholiq.
***
Hari Raya Idul Adha atau hari raya qurban mengajarkan kita akan arti keikhlasan yag setinggi-tingginya pada Allah, mengajarkan akan arti berbagi atas rizki yang telah diterima selama ini, hewan saja mampu mengorbankan dirinya untuk Allah, dengan harapan hal tersebut mampu menjadi pelajaran bagi manusia untuk belajar berkurban. Berkurban secara lebih luas tentunya bukan hanya sebatas kurban melalui daging qurban, namun lebih dari itu bagaimana kita jika belum mampu berkurban dengan seekor domba  atau sejenisnya, kita bisa berkurban lewat jalan lain sesuai dengan kemampuannya tentunya, semoga hari Raya Idul Kurban menjadikan kita manusia yang lebih bermanfaat untuk dunia kita masing-masing, dan semoga Allah senantiasa menguatkan langkah kita, Aminnnn
#Selamat Hari Raya Idul Adha 1433 H, Semoga Memompa semangat kita untuk berbagi bersama.
Jambi, 26 Oktober 2012
Amri Evianti *)
*) Amri Evianti Alumni mahasiswa Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta angkatan 2012 ini, yang saat ini menjadi Guru Muda di salah satu sekolah menengah pertama di daerahnya, sejak tahun 2009 sudah  memutuskan bergabung dengan Komunitas Mata Pena Yogyakarta untuk menambah inspirasi menulisnya.
Puisi perdananya pernah dimuat di majalah Siswa Nusantara (2007), cerpen perdananya yang berjudul “Aku Hanya Punya Hati” tergabung di Antologi Es Campur 3 ‘Mozaik Kehidupan’ (2012), cerpennya yang kedua juga terkumpul dalam sebuah antologi cerpen “Senandung Cinta” (Antologi Es Campur 4) , dilanjutkan cerpen ketiganya yang berjudul     “Gadis Pembawa Isyarat Tuhan” terkumpul di Antologi Es campur 5 yang tergabung dalam sebuah antologi cerpen“ 25 Bingkisan Rasa” yang semuanya terbit pada tahun 2012.
 Untuk menikmati gaya menulisnya, bisa di akses di www. Jejakpemimpi.blogspot.com. Untuk menambah jaringan komunikasi bisa menghubungi emailnya  melalui amrievianti@ymail.com.


1 komentar:

Komentar apa aja deh yang penting nggak SPAM, sok kenal juga nggak apa, saya juga suka sok kenal ma blogger lainnya hehe
Terimakasih dan selamat datang kembali.

Translate

.comment-content a {display: none;}