Home » » Anggresia : Pelangi Inspirasi dalam Sunyi

Anggresia : Pelangi Inspirasi dalam Sunyi

Posted by Blog Amri Evianti on Saturday, 29 December 2012


Menjadi penyandang Disabilitas   bukanlah sebuah penawaran dari  Tuhan untuk setiap ciptaanNya, hal itu sudah menjadi ketetapan Tuhan bahwa si A atau si B harus menjadi bagian dari dunia Disabilitas atau sebut saja Difabel. Saya meyakini bahwa  Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan bentuk yang seindah-indahnya. Tidak ada yang sia-sia dari setiap ciptaanNya, semua mem punyai peran dan tujuannya masing-masing .  Terkadang  pesan atau pelajaran dari Tuhan tidak langsung di ajarkan oleh Tuhan sen diri,justru  ciptaanNyalah yang  menjadi sumber  inspirasi bagi siapa pun yang dapat mengkaji dari setiap  pesan  yang Tuhan   kirimkan lewat ciptaanNya. Berbicara pesan Tuhan  saya teringat dengan sosok-sosok luar biasa dari Pusat Studi dan  Layanan Difabel di kampusku.
Kata Difabel sendiri merupakan  kepanjangan dari “Different abilities”  yang mempunyai makna “perbedaan kemampuan”. Kata Difabel sendiri merupakan terma  baru  untuk menggantikan istilah “penyandang cacat”, keterangan ini saya dapatkan dari buku “Membangun Kampus Inklusif Best  Practicies  Pengorganisasian Layanan Difabel” Buku yang disusun oleh Ibu Ro’fah dkk. Sebuah buku yang diterbitkan oleh Pusat Studi dan Layanan Difabel (PSLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun  2010.
Kata Difabel memang lebih layak untuk sahabat-sahabat  yang mempunyai kekurangan fisik seperti mendengar, melihat, berbicara atau lain sebagainya,dibanding dengan sebutan Penyandang Cacat. Menurut hemat saya kata penyandang cacat secara tidak  langsung memberikan asumsi yang negatif untuk para sahabat difabel.                                 
Berbicara tentang sahabat difabel,seumur hidupku baru kali ini aku  bertatapan  langsung dengan   sahabat yang mempunyai daya juang dan semangat yang tinggi. Baru kali ini pula aku bisa     berkomunikasi secara langsung dengan mereka yang memang   secara fisik kami berbeda, karena sudah    menjadi rahmat bagi alam bahwa manusia diciptakan dengan bentuk fisik dan potensi diri yang berbeda-beda pula.
Cerita ini  tentang sosok mahasiswa di  kampusku yang  mempunyai kemampuan berbeda   atau bisa disebut Different Ability .Sebut saja namanya Anggresia,  kami dipertemukan di sebuah tempat yang memuat   banyak inspirasi, tepatnya di sebuah Pusat Studi dan Layanan Difabel . Di Pusat Studi dan Layanan Difabel inilah yang membuatku  banyak belajar tentang menghargai,belajar tentang mensyukuri atas semua pemberian Tuhan.
Anggresia seorang mahasiswi yang tergolong adik tingkatku ini mempunyai  perawakan kecil sama sepertiku, tapi bedanya aku agak besar sedikit hehehe, dia juga periang dan ramah.  Anggresia dianugerahi kelengkapan fisik normal jika kalian bertemu pertama kali dengannya, mempunyai paras ayu pula. Hanya Tuhan mempunyai rencana   lain dibalik kelengkapan fisiknya, dia hanya diperkenankan melihat, berjalan, menggerakkan tangannya namun dia dijaga oleh Tuhan untuk berkata dan mendengarkan hal-hal yang tidak berguna,atau bisa   dikatakan dia seorang  Tunarungu dan Tunawicara.
Kisah pertama kalinya bertemu denggan Anggresia  di sebuah  ruang gedung Pusat Studi dan Layanan Difabel, aku tersenyum dengan sosok ayu di hadapanku, dengan gaya sok keren aku mengulurkan tanganku pada  gadis itu, “   Kenalkan, nama saya Amri. Siapa namamu?”
Dia tersenyum, seraya melepaskan tangannya dari jabatanku dan mengambil sebuah kertas dan pena,dengan anggun dia mengukir kertas itu dengan sebuah nama ANGGRESIA. Saat itu hanya detakan jantung yang teramat keras berdenyut, mencoba membuka kembali masa-masa saat aku selalu mengeluh dengan    hal kecil yang belum dikabulkan oleh Tuhan padaku, namun  detik ini ada sosok Anggresia yang menyadarkanku pada sebuah   kenyataan bahwa semua ini harus dijalani dengan penuh  kebahagiaan dan rasa syukur, seceria   raut wajah Anggresia saat menunjukkan namanya di hadapanku.
Aku   mengeluarkan buku dan penaku, lembaran kertas dan ukiran pena itulah yang membuatku dan dia hanyut dalam sebuah kedamaian   bahwa perbedaan fisik tidak membuat kami saling menjauhi.
Matahari kian meninggi, detik jarum  jam tanganku menuju ke arah sebuah waktu  seorang hamba untuk  menuju Tuhannya, suara merdu adzan dzuhur ini membuat  percakapanku dan Anggresia terhenti.  Aku  mempunyai keinginan  untuk berjamaah  sholat dzuhur  dengannya.Saat Anggresia melihat ke arahku, aku serta merta mengangkat kedua tanganku layaknya orang takbirotul ihram ketika sholat, Anggresia tersenyum dan menganggukkan kepalanya menandakan ia mengerti dengan ajakanku. Aku memang sangat nol dengan bahasa isyarat yang digunakan untuk berkomunikasi dengan   seseorang yang  mempunyai kekurangan dalam hal mendengar maupun berbicara, maka aku membuat bahasa isyarat sendiri yang untungnya Anggresia mengerti.
Singkat cerita, aku dan  Anggresia sudah  siap menggunakan mukena untuk sholat berjama’ah, aku kami berdiri bersebelahan. Saat imam  sholat sudah memulai takbir pertamanya,Anggresia segera mengangkat kedua  tangannya,tanpa suara dia menyebut Sang Pencipta, tanpa   dusta ia  mulai      membaca rangkaian bacaan  sholat dalam hatinya,sederhana  cara ia   berterimakasih pada Tuhan, namun kesederhaan itu yang membuat ia selalu percaya bahwa  kekurangan dalam dirinya bukan   berarti membuatnya  tidak  berguna, dan bukan berarti dia tidak bisa hadir di dunia  ini dengan suka-cita serta kesederhaan cara ia berterimakasihlah yang acapkali tidak bisa kita lakukan.
Akhirnya,  kisah sederhana sekitar satu tahun silam itu telah selesai ku catat, guratan kebahagian wajah  ayu Anggresia masih tertata rapi dalam ingatanku, aku ingin mengenangnya hingga nanti dan aku ingin mengabadikan  semuanya dalam tulisan ini, meski tidak semua kata-kata bisa mewakili namun setidaknya aku dan mungkin orang yang membaca tulisan ini dapat menemukan inpirasi yang luar  biasa dari ketegaran hatinya menerima semua yang Tuhan berikan, untuk memberi arti bahwa kita sama-sama manusia yang sudah selayaknya saling menghargai dan memahami. Untuk mengenang kerja kerasnya dalam kuliah yang tentunya  lebih sulit dibanding dengan  kita yang mempunyai kelengkapan fisik, kalian bisa   membayangkan bagaimana  sulitnya saat ia  harus   mengikut perkuliahan, namun dia tetap bertahan berjuang, lalu sekarang  bagaimana dengan kita yang serba ada ini? Serba bisa melihat, mendengar, berbicara,  berjalan  namun kita tetap biasa-biasa saja menanggapinya?semoga   Anggresia       memberi kita jutaan inspirasi untuk  menghargai dan memaknai apa saja yang ada dalam  kehidupan ini. 
Amri Evianti,
Jambi, 29 Desember 2012
*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog “Aku dan Sahabat Disabilitasku“ dalam rangka International Day of Person with Disabilities, Museum Konferensi Asia-Afrika bekerja sama dengan Mata Hati Indonesia menyelenggarakan lomba menulis blog Hari Internasional Penyandang Disabilitas (HIPENDIS) 2012.
                                                   
                      





                    
                  
                        

                        
                               

            


2 komentar:

  1. Disabilitas terburuk adalah jiwa yang terasing dari jasad kekasihnya.

    note>
    Ada beberapa kata di tulisannya yang nampak salah ketik. Cermati lagi, eman.

    ReplyDelete
  2. mantep bahasanya spektakuler nih Amri.. perlu banyak belajar darimu ini ^_^v good inspiring

    by @karimaberkarya

    ReplyDelete

Komentar apa aja deh yang penting nggak SPAM, sok kenal juga nggak apa, saya juga suka sok kenal ma blogger lainnya hehe
Terimakasih dan selamat datang kembali.

Translate

.comment-content a {display: none;}