Home » » Bahasa Sunda Dalam Ingatanku

Bahasa Sunda Dalam Ingatanku

Posted by Blog Amri Evianti on Friday, 8 March 2013



Sumber Gambar : http://m.inilah.com


 Ulah era nyarita make basa Sunda, Bener...Bener...Bener (Jangan malu berbicara menggunakan bahasa sunda, betul...betul...betul). Ya kalimat itu yang membuatku tidak malu untuk menceritakan kisah dimana aku mulai mengenal bahasa sunda.
Sekitar  10 tahun yang lalu aku dan adikku laki-laki  didaftarkan di Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) di daerahku, kira-kira saat itu usiaku berumur 8 tahun dan adikku berumur 6 tahun.  TPA yang baru kumasuki itu berada di kawasan penduduk yang berbahasa sunda, sedangkan aku dan adikku dari keluarga yang berketurunan jawa-Yogya.  Bisa dipastikan aku layaknya seorang manusia yang baru diturunkan di planet pluto, gelap-senyap karena tak tau sedikitpun arti bahasa yang diucapkan kawan-kawanku kala itu.
Bahasa sunda yang mampu kuserap di awal masuk kala itu adalah: Naon (apa.red). ya hanya kata itu saja yang benar-benar melekat di otakku, hingga akhirnya setibanya di rumah aku hanya mengucapkan naon-naon  saja. Di otakku kala itu terbesit jika bahasa satu ini cukup unik dan membuatku terus bertanya pada teman-temanku apa bahasa sundanya kaki sampai rambut haha. Berikut hasilnya  bahasa indonesia-bahasa sunda :
  1. Kaki : suku
  2. Tangan : lengen
  3. Rambut : buuk
  4. Muka : benget
  5. Kepala : sirah
  6. Gigi : huntu
  7. Bibir : biwir
Tak terasa sudah lebih dari 5 tahun aku dan adikku berada di lingkungan warga sunda ini , berbagai kosakata bahasa sunda masih banyak juga yang belum kuketahui, seperti istilah goreng di pelajaran Akhlak kala itu membuatku mengerutkan jidat, guruku seringkali mengucapkan kata itu. Aku menggerutu sendiri gorang-goreng, emang pisang goreng?. Belakangan aku baru tau kalau arti dari kata goreng itu adalah jelek, jadi setelah sebulan pelajaran di ajarkan 3 bulan kemudian baru mengerti isinya haha. Pernah juga aku dan adikku menjadi bahan tertawaan teman-temanku kala itu, saat aku salah pengucapan  bahasa sunda. Aku yang dari lahir hanya kenal bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa jawa-yogya sebagai bahasa harian, tampak sangat lucu saat mengucap kata enteung bahasa sunda yang berarti cermin ini pengucapan “ng” dibagian akhir tidak sekedar mengucap “ng” seperti biasa, tapi ada teknisnya (bisa tanya orang sunda ya untuk teknisnya hehe, saya agak bingung menjelaskannya)
Sekian tahun berada di lingkungan sunda, membuatku mengerti jika tingkatan bahasa sunda itu ada kasar dan halus. Sebagai contoh Kepala :  sirah (kasar) > mastaka (Halus), Muka:  beungeut (kasar)  > raray (halus).  Perlu kalian tau juga bahwa bahasa sunda dan bahasa jawa (non sunda) mempunyai kesamaan bahasa, namun berbeda arti. Dalam bahasa sunda cokot  itu mempunyai arti ambil/mengambil kalau bahasa jawa cokot itu artinya gigit. Bisa-bisa salah paham jika bicara dengan orang jawa yang tidak kenal bahasa sunda, jika ada orang sunda bilang “ cokotken piring” (ambilkan piring) orang jawa mikirnya “gigitlah piring”. Selanjutnya jika dalam bahasa sunda gedang itu mempunyai arti pepaya, jika bahasa jawa gedang itu mempunyai arti pisang.
Akhirnya, sekian lama belajar bahasa sunda ini, membuatku percaya bahwa Indonesia itu laksana pelangi, mempunyai berbagai warna bahasa yang membuatnya semakin indah. Saling menghargai sesama suku juga bisa diwujudkan dari mengenal bahasa satu sama lain. Jadi tidak pernah ada ruginya belajar bahasa daerah manapun. Saat ini sedikit banyak aku mengerti bahasa sunda, jika aku dibuang di negara yang isinya orang sunda sekalipun aku tak pernah akan tersesat karena aku mengerti bahasa sunda, meski belum sampai tingkatan bahasa sunda halus, dan
"Postingan ini diikutsertakan di AkuCinta Bahasa Daerah Giveaway"

http://www.niarningrum.com/2013/02/aku-cinta-bahasa-daerah-giveaway.html








9 komentar:

  1. kirain sunda itu bahasanya halus semua, soalnya orangnya mulus2 ... eh? :D
    Aku suka nada bicara orang Sunda, di akhirannya meninggi. Pernah kapan hari pas jalan2 sama Mama ke Bandung, main ke rumah Kang Aming, jadi senyum2 sendiri. Kata Mama, "Suaranya orang sini enak didengar ya..."
    secara kalau di rumah kan kami hobi teriak2 :D

    ReplyDelete
  2. Hampir mirip ya, bahasa sunda dengan bahasa jawa. Ada tingkatan juga. Eh, dulu aku juga pernah belajar bahasa sunda. Yang paling aku inget itu "Bumi"
    hehehe

    Kelas satu SD -_-

    ReplyDelete
  3. Ayo belajar bahasa Madura, alek se raddhin.

    ReplyDelete
  4. @Tha Artha : hahahha rata2 emang halus dan mulus kulitnya,,putih2 kwkwkkw..... wahhh aku juga sangat suka,,apalgi kalau pakai bahasa lemesnya
    @Sista Vera..wahh akhirnya singgah ke sini jugaa,terimakasihh sista :) ya Bumi itu rumah kan artinya :)
    @Muhhammad Affan : saya blas nggak tau dialek madura :)

    ReplyDelete
  5. urang sunda kok pada malu pake bhs sunda. urang jawapun gak malu pake bhs jawa. ini yg membuat urang sunda kehilangan jatidirinya. kliatannya malah pada lebih suka sama bhs betawi yg pake gue elo dan serba e e e e...
    ini yg bikin budaya menjadi luntur

    ReplyDelete
  6. Bumi priyangan memang bikin betah, udaranya sejuk.

    ReplyDelete
  7. kalaupun ada yang agak kasar tapi nadanya tetap lebih rendah sepertinya

    ReplyDelete
  8. Halus Kasar mah tergantung yg menanggapi.... yg pasti di Bandung itu adem..

    http://www.mygurukufile.ml/2016/03/media-pangajaran-aksara-sunda.html

    ReplyDelete
  9. Iya yah ternyata bahasa sunda itu punya keunikan tersendiri, bahkan jika sudah ngobrol dgn orang non-sunda. Ah pokona mah basa sunda sae pisan :D

    ReplyDelete

Komentar apa aja deh yang penting nggak SPAM, sok kenal juga nggak apa, saya juga suka sok kenal ma blogger lainnya hehe
Terimakasih dan selamat datang kembali.

Translate

Blog Archive

.comment-content a {display: none;}