Home » » Cerita Dari Kampung Karet: Saat Capung Enggan Pergi

Cerita Dari Kampung Karet: Saat Capung Enggan Pergi

Posted by Blog Amri Evianti on Friday, 22 March 2013

Percaya nggak-percaya sampai selarut ini, bapak-bapak di lingkungan RT kami masih *thak-thok* mukulin bambu yang akan dijadikan pagar. Ceritanya lembur, luar biasakan semangatnya? semangat para ayah dari ujung propinsi Jambi ini. Ceritanya juga Desa kami terpilih menjadi Desa .....*ngek-ngok aku lupa sebutannya apa huahaha. intinya terpilih menjadi Desa yang akan dilombakan tingkat ...*tingkat apa ya....duhh ni mau buat laporan kok nggak lengkap datanya hihihi.
Dan rumahku *ngaku-ngaku punya rumah,padahal rumah orang tua. terpilih menjadi salah satu dari lima Kawasan Rumah Pangan Lestari. Makanya saat ini halaman rumahku akan disulap menjadi kebun sayur mini*hihihihii
 ___________________________
Saya sudah melanjutkan cerita ini berhubung, kesalahan jaringan jadi hilangggggggggggg semua...untuk menghilangkan rasa sebel saya maka say akan pergi jauhh dulu *huhhhhhhhh
Cerita saya lanjutkan pemirsa setelah melewati masa yang sulit akhirnya saya bisa mengembalikan Mood saya untuk cerita ini.
Senja mulai bergulir dengan mesra di tanah karet ini, pagar bambu kini sudah mulai berjajar dengan rapi. Ya sebuah pagar rumah sederhana yang dibuat para warga, tak sebanding dengan pagar rumah yang ada diperkotaan, berpagarkan besi yang nyaris tak dapat dibedakan sebuah pagar atau jeruji penjara.
Di tanah yang memberikan banyak warna ini, begitu mempesona dengan segala kesederhanaannya, begitu indah dengan segala kebersamaannya. Hingga aku percaya di tanah inilah tersimpan berjuta inspirasi bagi siapapun yang mau mengkaji.
Sumber Gambar : pardomuanpane.blogspot.com
Tentang deretan pohon karet, atau bahkan deretan bukit barisan yang menyambut para petani karet kala mentari mulai terbit dari singgasananya. Atau bahkan tentang senja yang setia ada memperindah suasana sore ini, saat warga masih sibuk dengan aktivitasnya. Aku tertegun memandang semua ini, ahh begitu istimewanya.
Di tengah-tengah sibuknya warga, aku sempat mendengar sebuah percakapan,
" Papa, aku mau tetap tinggal di sini saja" suara seorang perempuan merajuk.
" Mama ini bagaimana, kita ke sini hanya sekedar berkunjung. Bukan untuk tinggal selamanya" sanggah seorang laki-laki.
Sumber Gambar : anehdan-nyata.blogspot.com
Aku masih serius menyimak pembicaraan itu. " Pa, jarang-jarang lho menemukan tempat sehangat dan senyaman ini. Apalagi kalau kita kembali ke kota, kemana-kemana kita hanya menabrak kaca mobil saat terbang"
Aku semakin penasaran dengan pembicaraan itu, aku mulai mendekat ke arah sumber suara. Saat kubuka semak-semak secara perlahan betapa kagetnya aku saat sepasang capung sedang berbicara tentang tanah ini. Aku terpana, hampir pingsan melihat kenyataan di zaman serba nyata ini, ditemukan sebuah capung bercakap-cakap mengomentari tentang tanah karet ini.*hahahha tentang capung ini hanya fiktif ya, sekedar menggambarkan tentang tanah karet ini dalam sebuah percakapan.


26 komentar:

  1. pertamax amankan :D
    hehehe..



    [ Gabung yuk ke Direktori Backlink Gratis Berkualitas No.1 Indonesia ]

    ReplyDelete
  2. wah mantap... mang mau berkunjung kerumahnya, mau minta sayuran hehe

    ReplyDelete
  3. alhamdulillah masih ada lomba2 semacam ini. secara tidak langsung menggerakkan warganya untuk berkarya dengan tujuan tertentu sesuai tema lomba.

    ReplyDelete
  4. nais inpoh mbak,
    @sweatangel ampuh banget jurusnya dapet ertamax :D

    ReplyDelete
  5. kawasan rumah pangan lestari, sepertinya menarik y mba klo kebun sayru nya sudah jadi..

    ReplyDelete
  6. @Sweat Angel : Waahh amannn mbakk,,,saya sudah gabung ya di backlinknya...makasih :)
    @Agus Setya: hehehhe ya sebagai warga tinggal melaksanakan tugasnya sebagai warga hehe.
    @Kamar Sebelah : Naissssss tooo :)
    @Buret: waaahhh kalau sudah besar2 sayurnya silahkan mampir....hihii nanti bbisa memetik sayuran rame2

    ReplyDelete
  7. Mang Yono: wawww silahkan sangat dinantii mang, tapi habis mborong sayuran kita kerja bakti lagi buat nanam ya hehe

    ReplyDelete
  8. waahh, seru dong..
    Bisa dapat adipura tuh, hehehe :)

    salam kenal aja

    ReplyDelete
  9. lho ada lanjutannya ya.
    ah indahnya gambaran suasana kampung karet itu.

    ReplyDelete
  10. Kamar Sebelah : hehehe.semoga nggak sampai nangis apalagi sampai guling2 hehe.
    Etika Maria: Seruuu Mbakk....kalau mbak mau memeberi penghargaan di terima kok hehhe *nah lhoo
    @Asus Setya: itu lanjutan kedua,,,yang pertama hangusss di bakar apiii internet yang gagal hehe "indahhh silahkan mampir ke kampung kami :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. waw jauh kali mbak, enak membayangkan aja lah sambil kunjung mengunjungi blog nya mbak , hehe

      Delete
  11. Pung, pung, capung !! Menetap di rumah mba amri saja, hehe :D

    ReplyDelete
  12. hehehe, sicapung betah tinggal disana, males balik ke kota karena nabrak kaca mobil aja kerjaannya :D

    ReplyDelete
  13. kirain bener bisa bicara capungnya ,wkk...
    di daerah saya sudah jarang sekali di temui capung...sudah susah menemui lahan hijau di jakarta

    ReplyDelete
  14. @Nhinis : WAAAHHH kalau tinggal di rumahku..nanti dikira kebun binatang hehe
    @agus AK: heheh malesss kena asap mobil, motor, pabrik hehe,,kalau di sini paling tebal kena asap dapur kwkkw
    @Buret: mau saya kirim capung dari Jambi??*nah lho hee

    ReplyDelete
    Replies
    1. rumahnya dihutan ya mbak? tanzan donk?

      Delete
    2. Iyaaa mas,,kitakan pernha ketemu di ujung hutannn..berarti mas juga tinggalnya di hutan dong kwkwkw

      Delete
  15. hehe.... berkunjung sambil minta sayuran... tapi ndak mau kerja bakti hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahh Yono curangg.masak mau sayurannya aj..ayoo pak kesini bawa cangkul dulu,,di sini juga banyak lho orang sunda..kita bisa ngobrol kadiye kaditu hehehe...

      Delete
    2. heheheh sambil nyanyi kebunku yack... oooh ternyata orang sunda ada di mana - mana salam ke orang sunda " kumaha daramang " heheheh

      Delete
  16. Wahh Mang punten ya balasna pertama itu tidak ada Mang nya..hilang kemana ya...
    Alhmdulillah damang..*ihiksss saya jawa si pak tapi lumayan sakedik tiasa bahasa sunda...Lihat kebunku penuh dengan cabai, ada yang hijau dan ada yang merah hehehe

    ReplyDelete
  17. Sepertinya mirip ga,baran kampung saya, tapi dulu.

    ReplyDelete
  18. makasih gan infonya dan semoga bermanfaat

    ReplyDelete
  19. mantap bos artikelnya dan sangat menarik

    ReplyDelete
  20. terimakasih pak buat infonya dan salam sukses

    ReplyDelete

Komentar apa aja deh yang penting nggak SPAM, sok kenal juga nggak apa, saya juga suka sok kenal ma blogger lainnya hehe
Terimakasih dan selamat datang kembali.

Translate

Blog Archive

.comment-content a {display: none;}