Home » » Petani Karet Menangis

Petani Karet Menangis

Posted by Blog Amri Evianti on Saturday, 16 May 2015

Hati-Hati Gambar tidak sesuai dengan artikel
Petani Karet Menangis? Ya itu pengibaratan saya sejak sebelum Pemilihan presiden lalu. Sudah lama bukan? Sejak saat itu harga karet di daerah saya menurun dari harga yang biasanya mencapai 11.000-12.000 per kg harga normal sejak sebelum pemilihan presiden harga berada pada nominal 6.000 ribuan. Sebagai orang yang tidak ahli dalam pakar ekonomi, saya tidak akan membahas kemungkinan kenapa harga karet belum bisa merangkak naik? Lalu? Apa yang akan saya bahas? Saya akan bahas yang sederhana-sederhana saja. Kecuali ada para pembaca yang ingin menjelaskan kenapa harga karet turun? Ataukah harga karet dunia sedang turun? Atau stok bahan mentah karet di seluruh pabrik di Indonesia khususnya kebanyakan, sehingga harga karet mentah dari petani nyaris tak berharga? Entahlah kita tanyakan saja pada rumput yang bergoyang *dudududu*

Dulu, konon katanya biasa harga karet naik turun, yang paling nggak biasa kali ini, karena biasanya karet turun itu ya tidak lama berkisar sebulan-3 bulanan, dan yang terjadi adalah para petani karet di sini merasa semakin sulit, yang biasanya sekali panen bisa mendapatkan uang semisal 1.000.000 jika harga karet 10.00 untuk 100 kg karet, sekarang? Bisa anda kalikan sendiri *kok gitu* hehehe apalagi kalau musim penghujan tiba, karet yang tidak bisa diambil getahnya dan tidak mungkin memanennya membuat hati petani karet menangis. Beda cerita ketika dulu harga karet sempat menjadi raja, yakni 1 kgnya seharga 20.000. 

Kita, yang mungkin tidak terjun langsung di dunia perkebunan karet, menyikapi hal tersebut bisa memberi saran dengan kata “sabar, semua pasti ada akhirnya” atau kata-kata super hero lainnya. Tapi orang yang berkecimpung langsung di dalamnya, merasa begitu berat, terkadang melupakan bahwa ada tidaknya rizki itu dari Tuhan, tapi menganggapnya dari harga karet yang sebisa mungkin normal. 

Sebagai makhluk yang beragama, tidak pantas rasanya mengesampingkan keberadaan Tuhan dalam hal seperti ini, karena muara yang harus kita yakini adalah semua atas kehendak-Nya. Jangan sampai karena hal semacam ini membuat kita terlalu membenci kedatangan hujan, karena kita tidak bisa mendapatkan uang lebih dari karet, padahal hujan hanya menurut pada titah Tuhannya untuk turun ke bumi. Bukan seberapa banyak uang yang kita hasilkan yang akan menemukan keberkahan, tapi seberapa kuat kita mau berusaha untuk mendapatkan rizki yang mulia. Semoga keberkahan selalu menyelimuti kita, apapun pekerjaan kita dan berapapun hasilnya.


25 komentar:

  1. Blogwalking :) mbak http://www.zafarsitinjak.blogspot.com :)

    ReplyDelete
  2. Semua petani di Indonesia memang kurang perhatian pemerinta ya mba!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya, terasanya seperti itu ya mas, hehe tapi entahlah, semoga badai lekas berlalu*eh* hehe

      Delete
  3. Mbak hubungannya karet sama hujan apa ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada dong mas Luthfi hubungannya, jika hujan turun pohon karet basah, para petani karet tidak bisa mengambil getah karet yang dapat diambil dari proses *nderes* yakni menghilangkan bagian kulit karet secara beraturan untuk diambil getahnya, jika musim hujan disamping bisa membuat kulit karet rusak dan mempercepat kepunahan, aliran getah karet juga tidak beraturan, intiny kalauhujan tidak bisa mengambil panen, otomatis pemasukan berkurang begitu

      Delete
    2. Jadi intinya, karet hanya bisa disadap saat musim panas saja, bukan begitu mbak Amri? :)

      Delete
  4. Ah, suka sekali dengan paragraf terakhirnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahhh saya kok ikutan suka ya, mbak indi? hehe selamat datang :)

      Delete
  5. Di Indonesia mah serba susah. Pemerintahnya ituloh yg bikin muak

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya kalau mikir pemerintah juga kadang pingin mabok mas bahrul *nah lho* makanya saya nggak mikirin mereka, hehehe *saya mah apa atuh* selamat datang mas MBU

      Delete
  6. kalau semangka dan cabe atau melon, ketika produksi banyak permintaan sedikit maka harga turun, ketika produksi sedikit permintaan banyak maka harga naik, kalau karet ini saya kurang tahu mbak

    ReplyDelete
  7. Assalaamu'alaikum wr.wb, mbak Amri... pokok karet itu pokok getah ya mbak. Kalau membaca penjelasan mbak tentang karet ia seperti pokok getah di Malayisa. Memang hujan bisa menjadi satu faktor pokok karet kurang menghasilkan produk susunya. Semua itu ujian Allah untuk menguji sabar manusia. Kita perlu bijak memikirkan usaha lain apabila menghadapi kesukaran begini. Maaf, baru membalas kunjungan mbak. Salam manis dari Sarikei, Sarawak. :)

    ReplyDelete
  8. Rasanya harga karet sekarang gak sebanding sama panas hujan yang dirasain petaninya pas manen karet. Iya gak sih, Mbak?

    ReplyDelete
  9. Terimkasih mba atas kunjungannya ke blog saya.
    ini merupakan kunjungan pertama saya di blog mba Evianti
    salam kenal mba :)

    ReplyDelete
  10. Para petani banyak yang menangis mbak, keculai para petani yang memiliki modal tinggi, SDM bidang pertanian semakin berkurang karena sektor ini memang kurang menarik ketimbang perindustrian dan perdagangan, padahal dari pertanian semua berawal

    ReplyDelete
  11. kalau dua puluh tahun yang lalu mungkin nasib mereka tidak begini

    ReplyDelete
  12. baca ini jadi inget,tahun lalu lihat saudara yang punya pohon karet,kadang kalau lagi naik mereka smangat,tapi kalau harganya udah anjlok,karet dibiarin aja netes. kalau tematnya udah penuh,ya udah dibuang aja gitu :(

    ReplyDelete
  13. Tadi saya lihat berita di tv pada tahun 2015 ini ekspor komoditas karet olahan memang turun mbak, bhkan jauh dari tahun lalu, sampai 30% turunnya. Di tempat saya juga banyak petani karet, kasihan mereka mengeluhkan harga karet. Soalnya harga satu kilo karet tak sebanding dengan harga satu kilogram beras...

    ReplyDelete
  14. Ikut prihatin dengan nasib petani karet

    ReplyDelete
  15. saya perlu mengulangi dua tiga empat kali untuk memahami isi entri yg ditulis oleh cik Amri. maaf, masih belum familiar sama bahasa Indonesia. tapi kalau saya tidak salah, isinya mengenai kedaifan petani di sana, kan?

    ReplyDelete
  16. Langsung ga konsen abis baca caption fotonya, hehe. Menggelitik.

    ReplyDelete
  17. Kita jualnya ke tengkulak sih.. Ngga sesuai jadinya :(

    ReplyDelete

Komentar apa aja deh yang penting nggak SPAM, sok kenal juga nggak apa, saya juga suka sok kenal ma blogger lainnya hehe
Terimakasih dan selamat datang kembali.

Translate

.comment-content a {display: none;}