Home » » Pemilik Mata Sepi

Pemilik Mata Sepi

Posted by Blog Amri Evianti on Thursday, 15 March 2018

Sumber Gambar: faridmaruf.wordpress.com
Sehat adalah nikmat yang teramat besar, namun seringkali terlupakan. Mengapa?karena kita merasa lumrah mendapatkannya. Lalu sudah berapa waktu sehat kita telah terbuang?seperti waktu yang telah kuabaikan karena sering menunda pekerjaan?namun memanggil siswa yang bernama Fadlan meski beda dengan nama di ijazahnya yang tertulis Randi. Singkat ia berkisah, bahwa nama panggilannya sekarang sesuai dengan nama ijazah, meski nama  sejak lahir bukan itu. Karena guru di sekolah dasar salah membubuhkan tinta hitam pada kertas yang dianggap resmi oleh negara. 

Apalah arti sebuah nama? bagi beberapa orang. Bagi beberapa yang lain,tentu nama mempunyai arti tersendiri, di dalamnya banyak doa dan kisah yang tak pernah bisa diulang. Meski begitu, kita tetap berhak memilih berada pihak yang mana.

Fadlan, adalah anak yang kurang beruntung hidupnya. Meksi begitu ia pun tak pernah bisa memilih atas kehidupan yang ia terima.  Ia menjadi salah satu anak yang menjadi korban broken home. Ibu dan Ayahnya memilih berpisah, dan ia tinggal bersama neneknya. Badannya agak sedikit tambun, yang sudah pasti posturnya lebih bongsor dariku. Meski aku adalah sosok yang ditakdirkan Tuhan sebagai orang yang disebut guru. Memberi predikat diri sendiri sebagai guru, rasanya begitu berat untuk diucap maupun ditulis. Apalah aku yang pada dunia guru di Indonesia sedang belajar bagaimana menjadi pendidik yang layak. 

Di sekolah sebelumnya Fadlan, di keluarkan karena sering membolos, padahal ia berangkat dari rumah dengan berpakaian lengkap. Tiba di sekolah ini yang menjadi tempat ia berpindah, penyakitnya belumlah terobati. Di sekolah yang memadukan konsep tinggal di asrama, tidak membuatnya semakin termotivasi. 

"Fadlan, kenapa tidak masuk sekolah?" Aku menyampaikan pertanyaan yang entah sudah berapa kali terlontar. Ia hanya diam, mematung dan memainkan ujung jari yang tak tertutup kaos kaki. Sedangkan tangannya memilin bagian depan bajunya.

"Tidur Bu, di asrama" jawabnya singkat, tanpa memandangku.

"Kenapa tidak mau berangkat sekolah?apa masalahnya? ceritakan pada Ibu!" kuberondong ia dengan banyak pertanyaan. Hasilnya, jawabannya tetap satu, ia tidur di asrama. Aku tak melihat sorot bahagia di matanya. Pernah ia kupaksa ke kelas,yang terjadi dia hanya tidur di dalam kelas tanpa mengerjakan apa pun. Pikirku, biarlah dulu, yang terpenting ia mau ke kelas. Lain hari, dia masih saja belum mau masuk sekolah. Seperti tidak ada yang menjadi alasan mengapa ia tetap ingin sekolah. Dalam hati aku hanya bertanya, tidak bisakah aku sebagai alasan kamu mau sekolah, Nak?. Seprtinya, aku harus mendekatimu lebih ekstrim dari biasanya.


4 komentar:

  1. Mungkin dalam tidurnya Fadlan bermimpi sedang belajar di ruangan kelas, jadinya sama-sama bersekolah cuma beda alam dimensi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi ada horor-horornya gitu ya hahahaa

      Delete
    2. Sempet berfikir gitu..hehe
      Ceritanya hampir sama seperti temen, yang tiap hari rajin dari rumah berangkat ke sekolah tapi ujung2nya nggak sampe ke sekolah..

      Delete
  2. Kasian Fadlan :(
    Bu guru jangan galak-galak yah :D Kepikiran orang tuanya mungkin. Dia ga punya tmen curhat. Takutnya jadi depresi, prestasi di sekolah terganggu deh :(

    ReplyDelete

Komentar apa aja deh yang penting nggak SPAM, sok kenal juga nggak apa, saya juga suka sok kenal ma blogger lainnya hehe
Terimakasih dan selamat datang kembali.

Translate

.comment-content a {display: none;}