Home » » Melepasmu

Melepasmu

Posted by Blog Amri Evianti on Wednesday, 29 May 2019


Biasanya Rajwa,  anak perempuanku yang menyapu laintai berkeramik putih gading ini. Belum genap sebulan ia diboyong suaminya ke Kalimantan. Aku seorang ibu yang baru saja belajar melepaskan anak perempuan satu-satunya ke tempat yang jauh pada orang yang baru dikenalnya. Namun, pernikahan telah menjadi nasihat, bahwa syurga Rajwa bukan lagi di bawah naungan keridaanku. Namun, ada pada suaminya, Fahda. Setelah akad nikahnya pun, bukan kami sebagai orang tua yang ia mohonkan restu, tetapi suaminya. Aku belum benar-benar rela, bahwa melepaskan darah dagingku sendiri, butuh masa yang tidak sederhana. Suamiku yang terlihat legowopun aku pernah memergokinya mengusap bulir bening dari matanya, kala memandang fhoto pernikahan Rajwa.  

Hari ini, aku masih duduk di anak tangga belakang rumah. Menatap hiruk-pikuknya hewan ternak peliharaan keluarga kami. Suara nyaring bebek jantan memenuhi setiap jengkal rongga pendengaran. Di tangga ini aku menghabiskan waktu sore selepas memasak. Tidak jarang aku menangis tersedu, mengingat Rajwa, anakku, kala suamiku tidak ada di rumah. Deritan bamboo berwarna hijau kehitaman beberapa meter di hadapanku, mampu melemparku jauh pada kenangan keberadaan Rajwa sebelum pernikahannya. Di sekitaran bambu itu, ia sering menghabiskan harinya, meski itu sekedar membaca buku kesukaannya.  Melihat batang bamboo meliuk-liuk diterpa angin, mataku panas. Ada yang benar-benar kurindukan tentang keberadaan putriku.

“Bu … coba tebak Bapak bawa apa?” Tiba-tiba Mas Lukman menghampiriku. Tampak ia memeluk bayi kucing. Bulunya lebat dan halus. Mataku membulat menatapnya. Baru kali ini secara langsung aku bertemu dengan kucing secantik ini. Sejurus kemudian, kucing yang konon kata majikan sebelumnya berumur empat bulan itu, sudah ada di pelukanku.

“Bu ….” Suamiku memanggil, aku tahu dari tadi ia menatapku.

“Dalem ….” Aku masih mengelus bulu kucing berwarna abu-abu di pangkuan.

“Nggak usah sedih lagi, memiliki anak perempuan memang harus siap melepas dibawa kemanapun oleh suaminya. Sama halnya, ketika sampean saya boyong ke luar dari Solo, dan kita tinggal di Lampung saat ini. Tidak ada di dunia ini yang pantas kita cintai berlebihan.” Aku hanya diam, kepalaku tertunduk kian dalam. Anak kucing yang telah terpisah dengan induknya ini mulai basah oleh air mataku.  

“Ibu, masih ingat kisah Nusaibah binti Ka’ab, bukan? Ia seorang sahabiyah Rasulullah yang mendapat gelar Perisai Rasulullah. Seorang perempuan yang merelakan dengan hati terbaiknya ditinggal oleh suami berikut anaknya. Perpisahan mereka bukan hanya perpisahan dunia. Tetapi, perpisahan mereka adalah perpisahan kematian, dua dunia berbeda. Suami dan anaknya gugur di medan perang, dan ia rela akan takdirnya,ia meyakini bahwa kematian suami dan putranya adalah dalam membela agama Allah. Ia mengabdikan hidupnya untuk turut ke medan perang menjadi tim logistik dan medis, untuk prajurit yang terluka.” Aku masih mendengarnya dengan sesenggukkan. Sudah tidak bisa lagi kusembunyikan bulir air mata ini.

“Ibu yang rida, biarkan Rajwa memulai dan melanjutkan ibadah pernikahannya. Rajwa masih bisa menemui kita, atau kita yang mengunjunginya. Bapak berharap, Ibu kuat menghadapinya sekuat Nusaibah menerima takdirnya. Jika Nusaibah binti Ka’ab mendapat gelar Perisai Rasulullah, karena mengabdikan umurnya untuk untuk sosok mulia Nabi Muhammad di medan perang sedari serangan musuh, ia tercatat menderita dua belas luka demi menjadi perisai Rasulullah dalam perang uhud.” Ia mencoba menatap manik mataku.

  “ Bapak berharap,  Ibu bisa menjadi perisai untuk Rajwa karena merelakannya dan menjadi jalan ia berbakti pada suaminya, dan balasannya insyaAllah syurga.” Jemari Mas Lukman perlahan menepuk pundakku yang mulai terguncang hebat. Aku malu, bagaimana aku serapuh ini menjadi ibu. Akulah contoh nyata dari ungkapan ‘mati sajroning urip’ meski aku hidup, namun aku tidak memiliki semangat atau gairah dalam menjalani kehidupan.

Nasihat suamiku sebisa mungkin aku terima dan melaksanakannya. Kini aku menjadi sosok ibu untuk kucing yang kian hari bertumbuh. Setiap pagi aku menyeduhkannya susu dan meletakkan makanannya dalam piring. Bulunya kian memanjang, matanya hitam kecoklatan penuh kilat memesona.

“Boboy … Boboy ….” Kupanggil kucing berbulu panjang itu, ia merupakan perpaduan kucing kampung dan Persia. Ia melompat girang menujuku. Memutariku berkali-kali. Sore ini kegiatanku memberi makan untuk aneka hewan ternak di kandang bawah. Boboy tampak duduk menghadap arah timur, lurus dengan kandang belakang rumah. Ia menungguku di atas anak tangga. Suasana ini sangat membuatku kembali bersemangat dan hidup. Ketika azan magrib mulai berkumandang. Aku menuju padasan samping rumah, musala yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah itu hanya perlu ditempuh menggunakan beberapa langkah kaki. Boboy sudah turun dari anak tangga. Menujuku, dan berada tidak jauh dari aku mengambil air suci. Ketika aku menuju musala, kucing berbulu panjang itu kembali membuntutiku dan sesekali mensejajarkan langkah denganku. Kunikmati suasana ini setiap harinya, hingga keadaan menamparku memberi nasihat, jangan cintai dunia seluruhnya.

“Boboy ….” Panggilan yang sudah kugaungkan berpuluh-puluh kali, tidak berhasil membawa Boboy padaku. Kususuri setiap sudut rumah, tidak kutemui ia di sana. Hatiku berdegup kencang setiap langkahku terus bergerak maju. Aku berulang kali merutuki diri, kenapa rumah tidak kukunci ketika membeli sayuran di warung. Mataku mulai panas, bayangan anakku berwujud kucing itu kembali berkelebat. Ia bukan hanya hewan peliharaan bagiku, namun juga teman dan sosok anak yang kembali menghidupkan rumah ini.

“Udah, Bu. Sabar nggak usah nangis lagi, jika rizkinya pasti kembali dan kita temukan,” pintanya kemudian, karena ia menemukan aku mulai menangis. Bukannya tangisku berhenti, justru air mataku kian deras. Aku berlari menuju pohon bambu, dimana Boboy juga sering menghibur diri dengan memainkan dedaunan yang berguguran. Lagi-lagi tidak kutemukan ia di sana. Kantung mataku kian menggelembung. Lututku mulai ngilu. Aku duduk di atas dedaunan bambu.

“Ibu tahu mengapa Rajwa senang sekali berada di sekitaran rumput bambu ini?”
Aku hanya menggeleng, aku hanya membatin mengapa Mas Lukman menyebutnya rumput. Aku sedang enggan menanggapinya.

“Bambusea adalah nama latin dari bambu yang masuk dalam kategori keluarga rumput yang memiliki rongga dan ruas pada batangnya. Bambu juga tergolong tanaman yang  memiliki pertumbuhan tercepat di dunia, Bu. Bagi orang Tiongkok, bambu dijadikan simbol kekuatan dan keteguhan. Bambu juga sering dijadikan simbol kstaria dan keberanian, proses pencapaian kemerdekaan bangsa kita juga tentu tidak terpisahkan dengan salah satu senjata tradisional dari bambu untuk melawan penjajah. ” Ia menjelaskan tanpa kupinta.

“Bapak pernah menceritakan kisah ini pada Rajwa,” imbuhnya kemudian.
“Bu, ada falsafah jawa tentang bambu, yakni Pring dheling tegese kendhel lan eling, kendhel mergo eling timbang grundel nganti suwing’ ungkapan ini memiliki arti bahwa orang hidup haruslah tahu dengan dirinya dan selalu mawas diri, jangan selalu menggerutu dalam menjalani kehidupan. Ada banyak hal tidak terduga setelah ini, Bu. Jangan sampai Ibu menyalahkan Tuhan sebagai sebab atas kesedihan yang kita terima.” Air mataku menyembul kembali ketika mendengar kalimat demi kalimat yang meluncur dari mulut suamiku.

“Hidup ini selalu dipenuhi masalah, Bu. Masalah selalu membuat kita kesepian dan bersedih bahkan bingung menjalaninya. Meski demikian semoga kita senantiasa kuat, jangan sampai kita bingung menghadapinya, setidaknya itulah hal yang bisa kita lakukan dari petuah jawa, 'pring petung, urip iku suwung senajan suwung nanging ojo podo nganti bingung.” Ia menerawang jauh, aku tidak tahu pasti apayang ia pikirkan. Berikutnya, ia berpamitan padaku, lalu membiarkan aku menenangkan diri dan memahami perlahan apa yang ia sampaikan. Wajah Rajwa yang ceria memelukku, tingkah lucu dan wajah manis Boboy menghampiri benakku. ‘Aku akan belajar merelakanmu, anak-anakku,’ bisikku dalam hati, dan air mataku telah menganak sungai sedari tadi. 



1 komentar:

  1. Harus setegar itu jadi sosok "Ibu" di cerpen ini. Setelah ditinggal sang anak perempuan satu-satunya menikah dan ikut suaminya, kini sang kucing kesayangan juga menghilang :(

    Wah, udah jarang banget kayaknya yang mengenal istilah "padasan" sekarang ini mbak? Itu istilah dari orang Jawa bukan ya?

    ReplyDelete

Komentar apa aja deh yang penting nggak SPAM, sok kenal juga nggak apa, saya juga suka sok kenal ma blogger lainnya hehe
Terimakasih dan selamat datang kembali.

Translate

.comment-content a {display: none;}